Page 144 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 144
Jika “kemenangan-kemenangan kecil” seni menggambarkan daya-
daya kehidupan atau siasat warga menghadapi persoalan sosial- 123
politik, maka Jakarta Biennale dapat dimaknai sebagai aktivisme
suatu lembaga/kolektif yang merepresentasikan berbagai siasat
itu. Peristiwa “seni” pada biennale tidak lagi sebagai gambaran
perkembangan mutakhir seni rupa, melainkan bergeser menjadi suatu
“praksis realitas”—yang berawal dari pertanyaan “naif.” Maka, seni
Untuk dibaca bersama
tidak hanya dilihat sebagai “fungsi sosial politik,” tetapi aktivisme
(seni) itu sendiri adalah peristiwa politik. Itulah setidaknya tren yang
kita lihat dalam penyelenggaraan biennale belakangan ini, seperti
biennale di Jakarta pada 2015.
Seorang kurator muda lain, yang juga tergabung dalam Curators Lab,
yaitu Benny Wicaksono, menggambarkan bienial sebagai “ruang
negosiasi dan transaksi kebudayaan.” Transaksi dan negosiasi ini
bukan hanya perkara nilai estetika semata, tetapi juga “soal ekonomi
dan implikasi sosial lainnya.” Bahkan, menurutnya, kekhasan bienial di
Indonesia—tidak seperti praktiknya di negara-negara maju—mestinya
tidak dimaknai dalam ruang lingkup seni rupa saja, tetapi lebih luas
dari itu, yaitu “lingkup kebudayaan.” Sementara itu, praktik-praktik
27
seni, bagi Putra Hidayatullah (salah seorang kurator muda lain yang
juga tergabung dalam Curators Lab), semakin disadari sebagai praktik
“kebaruan” yang “menjauh bahkan melawan definisi kultural yang
terkadang sudah aus makna.” 28
Perlawanan atas “definisi kultural yang aus makna” itu agaknya
dilandai oleh kritik sosiologis kritis atas “persepsi estetik” atau
praktik seni yang terlembagakan secara historis selama ini. Pemikir
Prancis, Pierre Bourdieu, menyebut persepsi atas seni semacam
itu—katakan saja “seni tinggi”—adalah sesuatu yang bersifat
sejarah, menekankan perbedaan (differential), memiliki kesadaran
atas penyimpangan (deviations, écarts) yang berujung melahirkan
serangkaian gaya seni. Berada di luar ranah itu, orang akan mirip
Ibid, Benny Wicaksono, “Seni dan Kurator,” hlm. 58.
27
28 Ibid, Putra Hidayatullah, “Makna Baru,” hlm. 28.
Hendro Wiyanto

