Page 272 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 272
lingkungannya Hysteria, tetangganya tidak asyik-asyik amat, ya tidak
usah peduli-peduli amat juga tidak apa-apa, sih. Hahaha! Kan, masih 251
bisa peduli di tempat lain gitu.
Ajeng: Gue menambahkan sedikit. Mengutip tulisan Ade Darmawan di
katalog FIXER 2010, kelompok-kelompok seniman ini muncul karena
ada kebutuhan untuk bersama-sama bikin ruang. Terus, biasanya,
Untuk dibaca bersama
kan, seniman berdiri sebagai pusat gagasan atau kesadaran, tapi
terus berkembang dengan segala macam perubahan dan percepatan
yang terjadi di masyarakat. Seperti, misalnya, pendekatan mereka
lebih kolaboratif, di mana posisi mereka sebagai seniman secara cair
berubah menjadi kolaborator atau mediatornya. Kami pengen tahu
dari kawan-kawan sendiri, apakah sebenarnya juga memerhatikan
atau sadar akan tanggapan dari masyarakat sekitar? Dari praktik yang
kalian lakukan di tempat masing-masing itu bagaimana? Atau apakah
ada yang menginspirasi?
Adin: Jadi, kata kuncinya justru, apa pun yang bisa membangun
sentimen atau solidaritas sosial. Bisa melalui cerita, bisa melalui situs,
bisa melalui artefak, bisa melalui tempat nongkrong atau apa pun
yang berkaitan dan bisa memantik memori kolektif. Itu bisa digunakan
untuk mengorganisir massa. Udah, itu aja kuncinya. Makanya, di
riset-riset awal itu aku biasanya tidak pernah ngomong soal struktur
sosial. Kadang-kadang hanya ngomongin soal keseharian dan hal-
hal personal. Justru, karena sangat personal itu, maka kami bisa
memetakan kecenderungan orang atau sekelompok masyarakat. Terus
dari sana kan, kalau misalnya mau kita pantik-pantik untuk terlibat,
jadi enak, tuh!
Ajeng: Yang lain ada yang mau jawab atau menanggapi, mungkin?
Kalau bagi SIKU Ruang Terpadu gimana?
Rais: Keterlibatan dengan masyarakat sekitar sebenarnya jadi salah
satu concern kami yang paling penting, ketika kami sadar (kalau) ini
Ajeng Nurul Aini

