Page 273 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 273
252 lokasinya—tadi sudah sempat disinggung—sebenarnya tidak terlalu
ramah untuk membuat kebisingan karena komplek perumahan. Tapi,
pada akhirnya, kami juga tetep perlu mencari jalan agar itu tidak
menjadi kendala. Pada bulan-bulan pertama kami menempati tempat
ini, kami langsung ngobrol dengan Pak RT, terus berbaur dengan
warga sekitar.
Untuk dibaca bersama
Misalnya, sama tukang bakso. Kami bisa menjalin hubungan dengan
cara kasih tahu kalo kami besok-besok mungkin ada acara dan akan
mengundang orang, gitu. Coba, deh, di jam-jam segini, abang baksonya
lewat sini mungkin bisa banyak yang beli.
Rais: Nah, ruang tamu kami itu pernah jadi semacam pos ronda. Jadi,
teman-teman warga nongkrong di sini untuk ngejagain lingkungan
sekitar sampai pagi gitu.
Rahmat: Paling, ya... salah satu aktivasinya, yaitu kerja bakti sama
nongkrong, sih. Udah, gitu aja. Sama pinjemin meja ping-pong buat
dipake di sekitaran buat turnamen ping-pong.
Rais : Iya, iya. Akhirnya dari situ kami kayak udah rutin berbagi
fasilitas. Berbagi aset. Mereka lagi butuh apa, dan kita punya, kami
pinjemin. Begitu juga sebaliknya. Kami lagi mau buat acara tapi tidak
ada sound system, ya udah, minjem di Pak RT. Gitu-gitulah kira-kira.
Kebetulan, Pak RT usahanya peminjaman sound system. Hahaha!
Gesya: Oh, oke! Mungkin pertanyaan lanjutan buat SIKU—selain siasat
seperti main gaple, menjaga pos ronda, mungkin sebenarnya yang
pengen kita kejar juga itu bagaimana bisa menjadi sebuah praktik
artistik. Apakah berpengaruh ke program-program atau project
artistik yang kalian kerjakan gitu? Sejauh apa dampaknya?
Rais: Dampak ke kegiatan kesenian kami itu untuk sekarang,
yang sangat-sangat terlihat, warga akhirnya mulai membuka diri
Sekarang atau Sepuluh Tahun Lagi?

