Page 282 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 282
harus memimpin sesuatu, mereka harus menerapkan sesuatu di
lingkungannya nanti, mereka siap. DEKAN ini yang kita ajarkan 261
betul bagaimana kami hidup mandiri, ketika kami pulang ke rumah,
ketika kami keluar nanti bisa menghidupi diri sendiri dan lingkungan
sekitar. Intinya begitu. Nah, tapi memang semakin ke sini anak-anak
Sanggar juga semakin sedikit. Mungkin karena salah satunya pindah
rumah. Rumahnya cukup jauh, perbatasan Jakarta dengan Bekasi.
Untuk dibaca bersama
Jadi, hal lain, kondisinya sudah tidak seperti dulu. Anak-anak di jalan
banyak sekali tapi cenderung, syukurlah, sudah banyak yang sekolah,
meskipun sekolah formal. Jadi, aku tidak tahu harus senang atau sedih
ketika anak-anak udah bisa sekolah, tapi aku pengennya merekrut
anak-anak yang memang pada akhirnya belum mendapatkan akses
sekolah sama sekali. Biasanya itu dari daerah-daerah yang kami tahu,
terus kami ajak ke Jakarta, kami ajak tinggal bareng. Gitu, sih. Jadi,
biasa memang diskusi, pleno, pertemuan bulanan menjadi sangat
penting untuk kami.
Ajeng: Thank you, Nisa!
Angga: Jeng! Jeng! Mau mengelaborasi, Jeng!
Ajeng: Boleh.
Angga: Ya, kalau kita ngeliat perkembangan kolektif seni atau ruang
seni 10 tahun ini, kan, keberlanjutannya memang dijalankan oleh
generasi-generasi baru ini, yang melanjutkan kolektif atau ruangnya
gitu. Pertanyaannya mungkin gini, “bagaimanakah kita menghadapi
regenerasi ini?” Kalau menurut gue, kan, tantangannya adalah
patronase dari si founder-nya itu menjalankannya seperti apa—
memaknai regenerasi ini seperti apa, sih? Penerus atau pengabdi?
Atau, karena kita tidak menjalankan warisan patron sebelumnya,
kan—gimana juga kita bisa melihat kolektif di 10 tahun mendatang
dalam menjalankannya gitu kebayang? Jadi, memaknai regenerasi
hari ini, tuh, gimana, ya, dalam kolektif? Karena yang tadi gue bilang,
“apakah dia penerus, atau pengabdi?” Atau, punya konteks yang lain
Ajeng Nurul Aini

