Page 278 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 278

bagaimana kami dilihat oleh tetangga sebagai sesuatu yang fix gitu.
              Misalnya, kayak gue kan sama Ismal bikin Badan Kajian Pertanahan.    257
                                                                       7
              Itu kalau terdengar dari namanya serius banget. Kerjanya riset, duduk
              di depan laptop, apa segala macem. Padahal, kerjanya sama sekali
              tidak gitu. Malah, sekarang tetangga sering banget, hampir tiap hari
              dateng. Walaupun namanya seseram itu, tapi yang dilakuin, tuh,
              berkebalikan gitu. Nah, itu yang akhirnya bikin tetangga-tetangga
               Untuk dibaca bersama
              kami punya rasa pengen ngelakuin hal bareng gitu. Jadi, selain bahwa
              identitas kami tidak fix, kami juga cukup fleksibel (dalam) mem-
              branding program. Bahkan, program-programnya sebenarnya tidak
              pernah datang dari kami, terus kami menawarkan apa saja yang bisa
              kami lakuin bareng-bareng. Yang penting kami—sebagai tetangga,
              sebagai teman—punya posisi yang setara, dan mereka tidak melihat
              kami sebagai lab atau lembaga riset, tapi orang yang bisa diajak main-
              main terus, nih, di lokasi ini, gitu.

              Ajeng: Oke! Trims, Bunga! Mau lanjut tanya ke Adin. Dalam formulir
              yang kami sebarkan untuk survei riset FIXER ini, di pertanyaan
              tentang generasi, Adin menjawab di formulir—atau Hysteria, dalam
              konteks organisasinya—bahwa generasi itu menjadi tidak penting,
              yang penting adalah upscaling—tapi mungkin Adin bisa lebih jelasin
              lagi. Cuma, jadi penasaran juga apakah masing-masing di sini punya
              cara bagaimana berbagi pengetahuan, dari (generasi) sebelumnya
              ke selanjutnya, untuk menyebarkan gagasannya ini? Adin, mungkin?
              Jangan pura-pura tidur, Din!


              Adin: Hahaha! Aku pikir, yang namanya regenerasi, kita semua
              pasti mikirin regenerasi, toh. Tapi, kita ini bukan LPM (Lembaga
              Pemberdayaan Masyarakat), atau pondok pesantren, atau segala
              macam. Kita ngerti, lah, keterbatasan kita. Kita melakukan metode-
              metode untuk distribusi pengetahuan itu. Ada magang, ada bikin
              kurikulum, sok-sokan gitu lah, pokoknya. Trus bikin sistem relawan,



              7  Badan Kajian Pertanahan (BKP) adalah sebuah kelompok riset yang fokus pada kajian dan kerja-kerja
              spekulatif mengenai isu pertanahan melalui riset dan praktik artistik di wilayah Jatiwangi, yang
              dengan sengaja menjadi parodi dari Badan Pertanahan Nasional. www.badankajianpertanahan.org
                                                                 Ajeng Nurul Aini
   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283