Page 286 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 286
dan lihat hasilnya seperti apa. Jadi, ini kayak masih fase mencari
bentuk dan bereksperimen karena concern sekarang terus terang lebih 265
ke gimana kami masih bisa di ruangan ini dulu. Tahun depan SIKU
masih ada tidak, sih?
Ajeng: Oke! Terima kasih, SIKU!
Untuk dibaca bersama
Heri: Saya mau menambahkan. Buat kami, yang penting itu
membangun jaringan dan volunteer yang banyak. Jadi bukan generasi
yang akan mengabdi. Kami cuma ingin punya volunteer yang banyak.
Ade: Ya, mungkin kayak kata Adin tadi, ya: organik. Itu tadi tidak
disengaja untuk mengajak atau mengundang tapi learning by doing
aja. Jadi, diajak untuk (ikut) ada kegiatan apa gitu. Nah, nanti di situ
dia ketertarikannya apa bisa diarahkan. Misalnya, seperti Acong.
Setelah dari Gudskul, dia mulai berani untuk inisiatif, “wah, pengen
bikin ini, Bang!” Ya, ayo! Kami mencoba membuat apa pun yang
dia mau. Mungkin beberapa program yang bisa mengajak volunteer
besar seperti Kerimbang Baling. Kerimbang Baling itu festival yang
melibatkan banyak orang. Nah, kami juga ada acara-acara kecilnya.
Misalnya, Dinas Kerimba yang melibatkan orang di luar ketertarikannya
dengan seni, tetapi melihat kegiatan yang langsung. Misalnya, di site-
nya Rimbang Baling mereka disuruh membersihkan perkebunan kopi
yang kami bikin. Tapi, di situ aja ada keterlibatannya, ada nongkrong-
nya. Itu bikin keterlibatan sebagai salah satu cara mempelajari
Sikukeluang-nya. Juga secara aktif mempelajari konteks apa yang
kami perjuangkan di sana. Misalnya, ada kelapa sawit, tambang batu
bara. Gimana hukumnya? Gimana korupsinya? Jadi, banyak hal yang
dibicarakan. Nah, dari keterlibatan itu, dia jadi tertarik dan main terus
ke Sikukeluang yang di Pekanbaru.
Ajeng: Jadi, proses berbagi ilmunya di situ ya, di Dinas Kerimba tadi?
Mungkin Ama bisa sedikit juga cerita kalau di Forum Sudut Pandang
dan konteks Palu. Karena empat tahun bukan usia yang sebentar
untuk Ama atau teman-teman di Forum Sudut Pandang.
Ajeng Nurul Aini

