Page 143 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 143
122 perkembangan tertentu, kedua praksis ini mesti berhadapan juga
dengan “praksis realitas.”
24
“Praksis realitas” menempatkan seni sebagai fungsi politik dan
pernah dicoba, misalnya, oleh seniman-seniman Lekra pada 1950-an
sampai pertengahan 1965. Akan tetapi, representasi mereka dalam
anggapan Ugeng telah gagal meleburkan antara yang estetik dan yang
Aktivisme dan Kolektivisme: Siasat Wargasama
politik. Kecenderungan leburnya antara “praksis estetis” dan “praksis
realitas” inilah yang sesungguhnya ditampakkan oleh kecenderungan-
kecenderungan aktivisme yang muncul dari kolektif para seniman
pasca 2000. Praktik aktivisme dari sejumlah kolektif perupa muda akan
dibicarakan secara ringkas di bagian berikut ini.
Untuk dibaca ber
“Mungkinkah ada jalan masuk ke dunia seni rupa tanpa harus punya
keterampilan menggambar, melukis atau semacam itu?” Pertanyaan
25
“naif” itu dilontarkan oleh seorang kurator muda di Makassar—
refleksi atas pengalaman personalnya sendiri—yang terlibat dalam
tim Curators Lab pada Jakarta Biennale 2015, “Maju Kena, Mundur
Kena: Bertindak Sekarang.” Pada kesempatan itu beberapa kurator
muda Indonesia bekerja sama dengan kurator utama berpengalaman,
Charles Esche, menggambarkan peristiwa biennale lebih sebagai
“merayakan kemenangan-kemenangan kecil” warga. Apa itu
“kemenangan-kemenangan kecil?”
Anwar ‘Jimpe’ Rahman, berbekal pertanyaan “naif” di atas,
mendefinisikannya dalam konteks kewargaan. Ia menulis, warga
adalah mereka yang “sejak lama dikalahkan melalui struktur politik
dan sosial. Hanya seni dan sastra yang memberi peluang sangat besar
untuk menyuarakan harapan mereka, dalam usaha mereka merebut
kedaulatan hidup. Seni dan sastra bisa menjadi tenaga yang mendaur
daya warga dalam setiap upaya keras mereka menjaga kehidupan
lingkungan dan manusia yang ada di dalamnya.”
26
Ugeng T. Moetidjo (2000).
24
25 Katalog Jakarta Biennale 2015, “Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang,” hlm. 34.
26 Ibid, hlm. 37.
Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme

