Page 276 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 276

mungkin ke Sanggar Anak Akar, sih. Karena tadi kita dengarkan
              fokusnya ke anak-anak pinggiran. Pernah ngalamin digusur segala   255
              macem. Mungkin bisa diceritain juga, gimana strateginya Sanggar
              Anak Akar—terutama lewat keseniannya—untuk nge-grab masyarakat
              sekitar, gitu?


              Nisa: Pernah ada satu kasus kami disamperin (warga) karena
               Untuk dibaca bersama
              lingkungan sekitar tidak suka. Tapi, setelah itu kami akhirnya
              membuat kesepakatan, antara Sanggar dan lingkungan sekitar. Jadi,
              kesepakatan-kesepakatan seperti, maksimal main musik berisik itu
              sampe jam sembilan, lalu kalau ada azan berhenti dulu. Karena kalau
              kami beraktivitas memang berisik. Jadi, kami dekatin Pak RT, Pak RW
              terlebih ya, itu penting banget. Jadi, sama seperti yang lain, bahwa
              Karang Taruna di sana juga zonk. Dan mereka melihat peluang, “Oh,
              ada Sanggar. Barangkali Sanggar itu bisa dipadukan dengan anak-
              anak muda di situ.” Sampai akhirnya, kami bisa diterima dan kami jadi
              saling butuh. Artinya, ketika lingkungan sekitar butuh ruang Sanggar
              untuk kegiatan mereka, seperti hajatan atau apa, kami fasilitasi. Kalau
              kami butuh teman-teman anak muda di sana untuk bantu Sanggar
              juga jadi enak. Jadi, (ada) hal-hal kecil yang bikin kami saling butuh,
              terus akhirnya, ya udah, jadi keluarga, dan mereka sangat welcome.
              Sampai akhirnya kami harus pindah rumah lagi. Nah, kami harus
              ngulang lagi, nih, dinamika-dinamika kayak gitu dari awal.

              Gesya: Oke! Makasih, Ama. Sekarang kita ke Ruang MES 56. Bagaimana
              melibatkan masyarakat, atau tanggapan apa dari masyarakat
              mengenai praktik-praktik yang dibikin sama Ruang MES 56. Mungkin
              bisa cerita singkat, Mas.


              Anang: Oke. Kalau di MES sendiri, sebenernya keterlibatan warga itu
              ada di dalam beberapa program, ya. Misalnya, kayak dulu awal-awal
              sebelum MES 56 jadi kayak sekarang, MES itu sangat terbuka. Misalnya,
              buat rapat RT, acara-acara warga kayak Idul Adha, menyembelih sapi
              gitu-gitu. Itu yang pertama. Terus yang kedua, di sisi program itu
              kami memanfaatkan momen-momen sosial, misalnya, kayak dapur

                                                                 Ajeng Nurul Aini
   271   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281